Dari Sukahati ke Sukamakmur (Daham Journey 2026)

Dari Sukahati ke Sukamakmur. Cakeep!

Enggak cakep, bukan pantun.

Jaraknya sekitar 37,6 km, dengan waktu tempuh hampir 2 jam dari KAF Cibinong.

Kalau di Google Maps mungkin terlihat biasa saja.

Tapi kalau sudah dijalani dengan 5 mobil penuh muatan barang, melewati jalur Citeureup–Puncak 2–Sukamakmur yang berliku, naik-turun, dan sukses bikin perut ikut olahraga… ceritanya jadi lain. 😄

Hari itu, Sabtu, 03-Oktober 2026, serombongan OTS Panitia Daham 2026 berangkat menuju Pondok Pesantren El-Imtiyaz Sukamakmur. Dulu, POSKU, pernah mengadakan agenda Raker di sini.

Dipimpin oleh Pak Hananto, rombongan terdiri dari Pak Hananto dan istri, Pak Hendry, Pak Jacob dan istri, Pak Isrofi dan istri, Bu Yulia, Pak Idham dan istri, Pak Deni bersama Irsyad dan Maryam, serta Pak Ari yang tadinya berniat motoran karena rencana PP, akhirnya ikut nebeng bareng Pak Hendry.

Saya sendiri bareng Pak Deni.

Pokoknya, formasi sudah lengkap. Tinggal berangkat. 😁

Sekitar pukul 09.30, kami meninggalkan Kuttab. Pak Hananto sih sudah berangkat duluan.

Lima mobil bergerak membawa berbagai titipan dari para OTS Q4 untuk kebutuhan Daham 2026.

Kasur, karpet, ember, perlengkapan kebersihan, alat olahraga, perlengkapan kamar, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Bisa dibilang, hari itu bukan sekadar road trip.

Ini road trip sambil boyongan. 😂

Sekitar pukul 11.00, kami tiba di Pondok Pesantren El-Imtiyaz Sukamakmur.

Sebelum mulai bekerja, tentu saja ada satu prosedur penting:

ISHOMA.

Istirahat sejenak, shalat Dzuhur, lalu makan siang.

Setelah tangki penuh, barulah para bapak mulai bergerak, pelan tapi lambat. Hehe..

Saatnya membakar kalori!

📦 Bongkar. Pilah. Angkut. Naik. Ulangi.

Semua barang diturunkan ke aula untuk dipilah.

Mana barang ikhwan.

Mana barang akhwat.

Mana untuk ustadz.

Mana untuk santri.

Dan mana yang ternyata…
“Ini punya siapa, ya?” 😆

Pak Idham memegang data kebutuhan sekaligus pembagiannya.

“Ini ikhwan. Ini akhwat. Ini ustadz…”

Satu per satu barang mulai dikelompokkan.

Setelah itu, misi berikutnya dimulai:

Memindahkan semuanya ke kamar masing-masing.

Barang-barang diangkut dari aula menuju lantai 2, tempat para santri nantinya bermukim.

Kasur mulai naik.

Karpet naik.

Barang-barang naik.

Orang-orangnya juga mulai naik… napasnya. 😂 ngos-ngosan.

Untuk area akhwat, perjuangannya sedikit berbeda.

Lokasinya agak terpisah, jalurnya memutar, dan aksesnya cukup sempit.

Membawa kasur ukuran besar melalui jalan seperti itu ternyata mampu menguji banyak hal:

tenaga, koordinasi, kesabaran… dan mungkin juga persahabatan. 😄

Para ummahat pun tak mau kalah.

Ikut turun tangan menata kamar, memasangkan sprei, memasang sarung bantal di kamar asatidz, memberi masukan ini-itu, dan memastikan semuanya mulai terasa seperti tempat tinggal.

Di area akhwat, kami juga memasang paranet sebagai hijab sekaligus pembatas lalu-lalang santri nantinya.

Pelan-pelan, tempat yang tadinya kosong mulai berubah menjadi ruang yang siap menyambut para peserta Daham.

🌤️ Sore datang, baterai mulai merah

Tidak terasa, hari berjalan begitu cepat.

Sore menjelang.

Pekerjaan sebenarnya belum selesai 100 persen.

Tapi kalau melihat wajah-wajah yang mulai kehabisan baterai, rasanya tinggal menunggu tulisan:

LOW BATTERY — PLEASE CHARGE. 😂

Lalu terdengar usulan dari Pak Hananto:

“Dah nginep saja yuk. Sesuai rencana awal. Sekalian ngetes suasana malam di sini.” katanya.

Pak Hendry pun sependapat.

Namun sebagian besar OTS masih punya agenda esok hari.

Akhirnya, setelah mempertimbangkan kondisi masing-masing, kami memutuskan untuk kembali.

Pekerjaan yang belum selesai dicatat dan didelegasikan kepada pengurus pondok agar bisa dilanjutkan.

“Semoga bisa sesuai target. Nanti kita ke sini lagi saja, hari apa gitu, sebelum tanggal 10,” kata Pak Hananto.

InsyaAllah.

Masih ada PR.

Masih ada yang harus dirapikan.

Masih ada perjalanan berikutnya.

Tapi setidaknya, hari itu satu langkah besar sudah dimulai.

Maa syaa Allah…

Begitulah kesibukan para panitia Daham 2026.

Ada yang menyumbangkan harta.

Ada yang mengumpulkan donasi.

Ada yang mengurus administrasi.

Ada yang mengangkat kasur.

Ada yang memasang paranet.

Ada yang mengatur barang.

Ada yang mengantar.

Ada yang berdoa.

Dan ada yang diam-diam mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan agenda pribadi agar sebuah ikhtiar besar bisa terlaksana.

Semuanya mungkin terlihat sederhana.

Hanya mengantar barang.

Hanya menata kamar.

Hanya mengangkat kasur.

Tapi di balik “hanya” itu ada cinta, kepedulian, dan harapan yang besar.

Harapan agar 37 santri dan 6 asatidz nantinya bisa menjalani Dauroh Hamasiyah dengan nyaman, fokus, dan penuh keberkahan.

Karena pada akhirnya, Daham bukan hanya tentang para santri yang menghafal Al-Qur’an.

Ada banyak tangan yang ikut menyiapkan jalan mereka.

Dan semoga setiap langkah, setiap tetes keringat, setiap rupiah, setiap waktu yang diluangkan…

menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir.

Yuk, ambil bagian dalam Daham 2026.

Tidak harus menunggu punya banyak.

Tidak harus menunggu bisa melakukan sesuatu yang besar.

Karena boleh jadi, kasur yang kita bantu antarkan, makanan yang kita bantu siapkan, atau rupiah yang kita titipkan…

menjadi bagian dari perjalanan seorang santri dalam menjaga Kalamullah.

Daham 2026 — Hari-Hari Bersama Qur’an: “Merajut kebahagian dalam Naungan-Nya”

🤍 Mari ikut menjadi bagian dari cerita baik ini.

—Dans.

2 komentar untuk “Dari Sukahati ke Sukamakmur (Daham Journey 2026)”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beranda
Program
Konfirmasi
Akun
Scroll to Top