Ketika Ta’dzim Bertemu Semangat Melestarikan Bumi

Pagi ini, ada yang berbeda di KAF Cibinong.
Para ummahat menghadirkan minuman kesehatan berbahan rimpang yang segar untuk para asatidzah. Sebuah ikhtiar sederhana untuk menjaga kesehatan mereka yang setiap hari membersamai perjalanan pendidikan para santri.
Namun, ada satu hal kecil yang membuatnya terasa istimewa.
Kali ini, minuman tidak disajikan dalam botol plastik sekali pakai.
Para ummahat memilih menghadirkannya dalam botol kaca yang dapat digunakan kembali, lengkap dengan penutupnya. Bahkan, setiap botol telah ditempelkan nama masing-masing ustadz dan ustadzah.
Ada nama yang membuat minuman itu terasa lebih personal.
Ada perhatian yang membuatnya terasa lebih dari sekadar minuman.
Sebab terkadang, bentuk cinta memang hadir dalam hal-hal sederhana.
Segelas minuman rimpang.
Sebotol kaca.
Nama yang dituliskan dengan penuh perhatian.
Di balik semua itu, ada dua nilai yang berjalan beriringan: ta’dzim kepada para guru dan semangat melestarikan bumi.
Islam mengajarkan kita untuk menghormati orang-orang yang memiliki ilmu dan berjasa dalam mendidik. Namun pada saat yang sama, kita juga diingatkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”
(QS. Al-A’raf: 56)
Maka, memilih botol yang bisa digunakan kembali bukan sekadar soal mengurangi plastik.
Ia adalah sebuah ikhtiar kecil untuk belajar bertanggung jawab atas apa yang kita gunakan dan apa yang kita tinggalkan.
Bukankah bumi ini adalah amanah?
Dan bukankah amanah selalu menuntut kita untuk menjaganya sebaik mungkin?
Hari ini, para ummahat KAF Cibinong seolah sedang mengajarkan satu hal sederhana:
Memuliakan guru tidak harus dengan sesuatu yang berlebihan.
Kadang cukup dengan menghadirkan minuman yang menyehatkan, menuliskan nama mereka, dan memilih wadah yang lebih ramah bagi bumi.
Karena ketika ta’dzim bertemu dengan kepedulian terhadap lingkungan, lahirlah kebaikan yang insyaallah tidak hanya terasa sebentar, tetapi lestari di bumi, dan berpahala di hadapan Allah.
Semoga setiap ikhtiar kecil ini menjadi amal yang diterima.
Semoga setiap teguk yang diminum para asatidzah menjadi keberkahan.
Dan semoga setiap botol yang digunakan kembali menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya.
“Ya Allah, berkahilah para guru kami, sehatkan tubuh mereka, kuatkan langkah mereka dalam mendidik generasi, dan jadikan setiap perhatian kecil yang kami berikan kepada mereka sebagai amal jariyah yang Engkau ridai.” 🤍
